SEALANT BULK is The Best Apshaltic Plug Joint Sealant in Indonesia

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pemotongan (Cutter) Beton Untuk Membuat Celah

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pembongkaran Beton. Ini adalah Aplikasi Expansion Joint pada Jembatan

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pembersihan Celah dari Kotoran Kasar

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pembersihan Celah yang Kedua dari Debu, Menggunakan Kompresor Angin

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pencampuran Agregat dengan Bitumen

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pemadatan Agregat

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Finishing, Menutup Lapisan Dengan Aspal Sealant

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pekerjaan Pemasangan Aspal Sealant pada Rigid Pavement (Jalan Cor Beton)

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

SELAMAT DATANG

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia.
Murni Hasil Karya Anak Bangsa, 100% Indonesia

Perkenalkan kami, Mutiara Jaya Trading berkedudukan di Bekasi dan didirikan pada tahun 2009. Berafiliasi dengan CV. Mandiri Putra Jaya, dalam hal ini bergerak sebagai General Trading. Kami adalah Perusahaan yang mengkhususkan diri dalam memproduksi serta memasarkan Asphaltic Plug Joint Sealant dengan merk Sealant Bulk dan Super Sealant. Dengan demikian, kami adalah produsen sekaligus penjual dari Aspal Sealant tersebut.

Produk Kami telah mendapatkan Sertifikasi dari Dinas PU, dan secara berkala diperiksa serta dilaporkan kepada Dinas tersebut, agar kualitas produk yang dihasilkan tetap terjaga mutunya. Produk kami telah banyak diakui oleh Perusahaan-Perusahaan Kontraktor, baik Swasta maupun BUMN, telah teruji memiliki kualitas yang sangat baik.

Kami telah berkiprah dengan sangat baik pada produk Aspal Sealant ini. Sudah lebih dari Lima Tahun produk Aspal Sealant kami digunakan hampir pada setiap proyek pembangunan jalan dan jembatan di Indonesia.

Kami bangga telah menjadi bagian pembangunan Infrastruktur di negeri sendiri.

ANAK BANGSA MAMPU - INDONESIA BISA !!







Tampilkan postingan dengan label kebijakan pemerintah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebijakan pemerintah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 November 2016

Apa yang Tersisa dari Bangsa ini?

Seorang menteri hanya geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir bagaimana bisa besi baja termasuk benda yang diselundupkan ke Indonesia. Besi baja pasti berat dan ada yang lebar, ada pula yang panjang.

Bayangan kita tentang penyelundupan adalah benda-benda relatif kecil dan relatif ringan, seperti narkoba, ponsel, dan barang elektronik lainnya. Hilang akal kita jika besi baja saja bisa diselundupkan, apalagi yang lain-lainnya.

Intinya, bangsa ini benar-benar sudah tak waras. Kejahatan yang masif, sistematis, dan terstruktur ini tak mungkin hanya masalah pejabat di pelabuhan dan di bea cukai. Ini pasti melibatkan semuanya, termasuk polisi dan tentara.

Pembicaraan itu berawal dari kondisi BUMN baja yang kini kembali dalam fase yang tak menggembirakan. Padahal, BUMN ini sudah bermitra dengan perusahaan baja besar dari luar negeri. Perusahaan itu menjadi sulit berkembang akibat pasar yang dirusak oleh penyelundupan. Tentu, penyelundupan hanya satu faktor, masih banyak faktor lain yang bersifat internal.

Kerusakan negeri ini masuk di segala lini, utamanya adalah karena faktor korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pembangunan ekonomi, hukum, politik, dan pendidikan selalu terbentur pada tiga poin itu. Pemilu atau pilkada yang diadakan lima tahun sekali menjadi katarsis yang semu.

Upaya penyucian, pembaruan, dan pembangun harapan baru sebetulnya sia-sia belaka. Semua janji saat kampanye tak mungkin bisa dipenuhi. Sistem kepartaian dan sistem politik yang kita bangun sangat mengandalkan kekuatan uang.

Di tengah ketimpangan ekonomi yang dahsyat, maka hal itu hanya menciptakan ketergantungan pada beberapa gelintir orang. Hal itu pada akhirnya menuntut dikembalikan melalui kebijakan yang bersifat koruptif dan kolutif. Akibatnya, tujuan politik untuk membangun kesejahteraan, keadilan, dan pemerataan menjadi punah.

Sudah menjadi watak sebuah kejahatan, apalagi jika dilakukan pemimpinnya, maka akan dengan cepat menjadi teladan. Tak hanya mendekonstruksi birokrasi dan partai yang bersentuhan langsung, tapi menjalar ke seluruh elemen sosial. Karena itu, negeri ini sebenarnya berjalan tanpa cetak biru. Semua alamiah saja. Jika pun tak runtuh, ini karena alam negeri ini demikian kaya.

Habis minyak ada kayu, habis kayu ada batu bara, habis batu bara ada gas, habis gas ada minyak goreng, lalu kita tak tahu setelah itu apa. Yang diupayakan adalah pariwisata, yang ini pun karena alam kita yang indah tiada tara.

Seorang duta besar bercerita bahwa dirinya ditugasi pemerintah untuk berjualan. Lalu, ia menggali data perdagangan. Hasilnya adalah perdagangan sumber daya alam belaka. Paling banter, ia berpromosi pariwisata. Barang industri lebih banyak kerajinan masyarakat, yang nilainya relatif kecil. Tak ada barang industri besar yang bisa dijual.

Tak heran jika perjalanan negeri ini secara kualitatif hanya sedikit bergerak. Karena itu, di akhir obrolan selalu berujung pada kegetiran. Tak jarang, kemudian mulai bicara ngelantur, seperti menghitung hari kapan Papua lepas, kapan Aceh lepas, kapan Manado lepas, kapan Bali lepas, kapan Maluku lepas. Jleb!

Kita pun mulai takut, walaupun untuk Indonesia terbalkanisasi tak juga mudah. Namun, menakut-nakuti bahwa itu karena intervensi asing, sebetulnya relatif ilusif. Faktor terbesar dan terpenting adalah dari dalam negeri, utamanya dari pemerintah pusat, bukan faktor asing atau faktor daerah. Faktor internal itu adalah masalah kesejahteraan, pemerataan, dan keadilan.

Ada dua institusi yang sangat penting untuk negeri yang berpenduduk besar dan berwilayah luas. Dua lembaga itu adalah lembaga militer (TNI) dan intelijen. Di negeri demokratis, dua lembaga ini hampir-hampir tak terpengaruh dinamika politik. Sedangkan, lembaga lainnya sangat dekat dengan dinamika politik.

Seiring pergantian pemerintahan, maka akan berganti pejabat, yang berasal atau ditunjuk oleh partai pemenang. Sedangkan, watak partai paling ekstrem adalah berpecah belah dan mengejar kepentingan partainya. Desain ini untuk membangun kompetisi, pergiliran, dan pengawasan, serta keseimbangan.

Adapun lembaga intelijen dan militer justru harus relatif steril, dan sejak dini, aparatusnya didoktrin sebagai pemersatu dan penjaga kepentingan nasional. Loyalitasnya hanya pada konstitusi dan ideologi negara. Karena itu, dua institusi ini adalah tumpuan harapan, yang berarti pula jika negeri ini kacau maka mereka pula yang paling bertanggung jawab.

Namun, kita menyaksikan bahwa para pemimpinnya sering ikut bermain politik pragmatis, terjebak pada perilaku koruptif, dan menjadi alat para pemodal bahkan dibina kepentingan asing. Bagi wartawan, bukan hal sulit untuk mendapatkan pergunjingan semacam itu.

Saat Uni Soviet runtuh, Putin sedang bertugas sebagai intel di Berlin Timur. Ketika negeri itu berubah menjadi Rusia, ia pulang dan bergabung dengan pemerintahan baru. Diam-diam, ia menghimpun intel-intel yang seide untuk membangun kekuatan politik. Ia pun mendirikan partai dan memenangkan pemilu. Putin dengan cepat mengembalikan marwah Rusia dan lepas dari boneka asing.

Kekuatan Cina adalah di tentara rakyat, demikian pula dengan Amerika Serikat yang memiliki intelijen dan militer yang kuat. Contoh kecil, Nixon jatuh akibat keterlibatan petinggi intelijen yang memandu wartawan The Washington Post dalam menginvestigasi kasus Watergate.

Sehatnya intelijen dan militer bukan untuk mengendalikan dan melakukan intervensi proses dan sistem demokrasi, tapi untuk menjadi pendulum agar bandul sejarah bergerak menanjak. Kita menunggu para idealis di militer dan intelijen untuk bergerak dan tak diam berpangku tangan.

Sumber : KOLOM republika

Sabtu, 28 Mei 2016

DATA: Ini Rentetan Pengumuman Pemerintahan Jokowi yang Rontokkan Bursa Saham

Beberapa kali pemerintah malah merilis pernyataan yang membuat takut pelaku pasar

Analis senior Deutsche Bank Heryanto Irawan mengingatkan, Indeks Harga Saham Gabungan bisa melaju menuju 5.700 asalkan pemerintah memperbaiki pola komunikasi selama ini yang kerap kali malah membuat indeks rontok.

Peringatan Heryanto agaknya tidak berlebihan. Dalam catatan analis Bareksa, berbagai pengumuman pemerintah bukan cuma memantik kontroversi, bahkan juga menciptakan kepanikan di kalangan investor. Imbasnya, harga saham di sektor yang terkait langsung ambrol. Yang memprihatinkan, fenomena ini tidak terjadi sekali dua.

Berikut adalah serentetan pengumuman pemerintah yang direspons dengan sangat negatif oleh pasar modal.

1. Presiden: Harga semen BUMN dipangkas Rp3.000 per sak, 16 Januari 2015

Di sela-sela pidatonya, Presiden mengumumkan harga semen diturunkan Rp3.000 per sak. Yang jadi masalah, pemerintah tidak secara terang menjelaskan apa yang melatari kebijakan ini. Hanya disampaikan, pemotongan harga ini dilakukan agar bisa dinikmati oleh masyarakat. Cilakanya, meskipun Presiden mengatakan penurunan harga ini adalah untuk semen produksi BUMN, investor langsung melepas saham emiten-emiten semen. Investor mengantisipasi pendapatan produsen semen bakal amblas dihantam kebijakan populis ini.

Dampaknya, tanpa ampun lagi, saham-saham produsen semen terjun bebas pada hari itu. Yang paling parah dialami SMGR. Saham BUMN ini langsung terpenggal 6,48 persen menjadi Rp15.150 per lembar.

2. Menteri Perindustrian: Harga gas industri diusulkan turun 10-40 persen, 15 April 2015

Selang beberapa bulan setelah harga semen diintervensi, pemerintah kembali merilis pengumuman yang membuat panik investor. Kali ini menyangkut harga gas industri. Menteri Perindustrian Saleh Husin menyatakan pemerintah mengusulkan agar harga gas untuk industri diturunkan 10-40 persen. Lagi-lagi, pemerintah tidak menjelaskan secara memadai bagaimana langkah ini akan ditempuh. Menteri Saleh hanya mengatakan kebijakan ini akan meningkatkan penerimaan pajak dan perkembangan ekonomi.

Buntutnya, harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) anjlok 4,3 persen menjadi Rp4.375 per lembar.

Pemerintah baru menjelaskan skema penurunan harga gas pada akhir Desember 2015, setelah harga saham PGAS terpangkas lebih dari separuh dibandingkan harga di hari saat pengumuman itu dirilis.

3. Sekretaris Kabinet: Presiden akan mendorong harga obat menjadi lebih murah, 8 Desember 2015

Pada awal bulan Desember 2015, pemerintah kembali merilis pernyataan yang mengguncang pasar modal. Kali ini, sumbernya adalah pernyataan Sekretaris Kabinet Pramono Anung di konferensi pers bahwa pemerintah akan mendorong harga obat-obatan menjadi lebih murah dan lebih terjangkau bagi masyarakat. Masalahnya, lagi-lagi, pemerintah tidak menjelaskan secara jernih dan terperinci kebijakan ini.

Kembali, pernyataan ini direspons dengan sangat negatif oleh pelaku pasar. Investor pun berbondong-bondong melepas saham-saham farmasi seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), dan dan PT Indofarma Tbk (INAF). Ketiga emiten ini mengalami tekanan jual cukup hebat selama tiga hari perdagangan di minggu kedua Desember 2015.

Kepanikan investor bukan tanpa alasan. Farmasi merupakan salah satu industri yang berbiaya mahal. Tingginya biaya bahan baku dan tenaga kerja membuat marjin keuntungan industri farmasi tergolong tipis. Bahkan, rata-rata marjin laba yang diperoleh perusahaan farmasi Indonesia masih lebih rendah dibandingkan rata-rata perusahaan farmasi di Asia.

Pemerintah baru menjelaskan secara memadai prosedur penurunan harga obat-obatan empat bulan setelahnya, pada awal April 2016, bertepatan dengan dirilisnya Paket Kebijakan Ekonomi XI. Di salah satu poin pembahasan, dijelaskan bahwa pemerintah akan mendorong pengembangan industri bahan baku farmasi di dalam negeri sehingga harga obat-obatan bisa lebih terjangkau masyarakat.

4. Menteri BUMN: Target penurunan NIM sampai 3% dalam 3 tahun, 19 Februari 2016

Gelombang panik investor akibat pengumuman pemerintah terus berlanjut. Kali ini, datang dari Menteri BUMN Rini Soemarno yang menyatakan pemerintah menginginkan marjin bunga bersih (NIM) perbankan turun ke level 3 persen dalam tiga tahun ke depan. Sama seperti sebelumnya, pernyataan ini tidak dibarengi dengan penjelasan yang klir bagaimana kebijakan itu akan ditempuh.

Kepanikan makin menjadi, setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengamini pernyataan tersebut. Saham perbankan langsung terjungkal, dengan penurunan terparah dialami PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Yang lebih membingungkan investor, seminggu kemudian pemerintah mengoreksi pernyataan yang sudah terlanjur memicu kepanikan itu. Kementerian BUMN melalui Deputi Bidang Jasa dan Keuangan Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan instansinya tidak berencana menurunkan NIM bank BUMN. Yang akan dilakukan, sebatas mendorong penurunan biaya dana melalui penurunan bunga deposito perbankan yang selanjutnya diikuti dengan penurunan bunga kredit perbankan.

Bareksa