SEALANT BULK is The Best Apshaltic Plug Joint Sealant in Indonesia

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pemotongan (Cutter) Beton Untuk Membuat Celah

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pembongkaran Beton. Ini adalah Aplikasi Expansion Joint pada Jembatan

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pembersihan Celah dari Kotoran Kasar

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pembersihan Celah yang Kedua dari Debu, Menggunakan Kompresor Angin

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pencampuran Agregat dengan Bitumen

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pemadatan Agregat

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Finishing, Menutup Lapisan Dengan Aspal Sealant

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

Proses Pekerjaan Pemasangan Aspal Sealant pada Rigid Pavement (Jalan Cor Beton)

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia

SELAMAT DATANG

Kami adalah Produsen Aspal Joint Sealant Terbaik di Indonesia.
Murni Hasil Karya Anak Bangsa, 100% Indonesia

Perkenalkan kami, Mutiara Jaya Trading berkedudukan di Bekasi dan didirikan pada tahun 2009. Berafiliasi dengan CV. Mandiri Putra Jaya, dalam hal ini bergerak sebagai General Trading. Kami adalah Perusahaan yang mengkhususkan diri dalam memproduksi serta memasarkan Asphaltic Plug Joint Sealant dengan merk Sealant Bulk dan Super Sealant. Dengan demikian, kami adalah produsen sekaligus penjual dari Aspal Sealant tersebut.

Produk Kami telah mendapatkan Sertifikasi dari Dinas PU, dan secara berkala diperiksa serta dilaporkan kepada Dinas tersebut, agar kualitas produk yang dihasilkan tetap terjaga mutunya. Produk kami telah banyak diakui oleh Perusahaan-Perusahaan Kontraktor, baik Swasta maupun BUMN, telah teruji memiliki kualitas yang sangat baik.

Kami telah berkiprah dengan sangat baik pada produk Aspal Sealant ini. Sudah lebih dari Lima Tahun produk Aspal Sealant kami digunakan hampir pada setiap proyek pembangunan jalan dan jembatan di Indonesia.

Kami bangga telah menjadi bagian pembangunan Infrastruktur di negeri sendiri.

ANAK BANGSA MAMPU - INDONESIA BISA !!







Tampilkan postingan dengan label Dampak MEA Terhadap Sektor Konstruksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dampak MEA Terhadap Sektor Konstruksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2017

Hadapi MEA, Pemerintah Diminta Pertegas Sertifikasi Tenaga Kerja

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Edy Suandi Hamid mengatakan kepemilikan sertifikasi harus dipertegas dalam lalu lintas tenaga kerja antarnegara ASEAN.

"Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) memungkinkan kebebasan lalu lintas tenaga kerja antarnegara ASEAN, tetapi kepemilikan sertifikasinya harus diperjelas," kata Edy pada diskusi "Refleksi Akhir Tahun Pemerintahan Jokowi dan kontribusi KAHMI untuk Negeri" di Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Senin (2/1/2017).

Menurut Edy, dalam konteks pemberlakuan MEA seluruh negara anggota ASEAN telah menyepakati konsep aliran bebas tenaga kerja terampil (free flow of skilled labor) selain aliran bebas jasa (free flow of services) dan aliran bebas barang (free flow goods).

Adapun tenaga terampil yang disepakati negara-negara ASEAN sesuai "Mutual Recognition Arrangement (MRA)" ada delapan profesi yakni insinyur, perawat, arsitek, tenaga survei, dokter gigi, akuntan, jasa wisata, dan dokter.

"Tidak serta merta dapat keluar masuk, mereka harus tersertifikasi betul," kata mantan rektor UII itu.

Oleh sebab itu, menurut dia, apabila tenaga kerja asing yang telah keluar masuk di Indonesia saat ini banyak di antaranya adalah tenaga kasar maka hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip kesepakatan dalam pemberlakuan MEA.

"Apabila yang tersebar di media sosial (medsos) benar maka tidak sesuai. Apalagi di Indonesia sendiri masih banyak pengangguran," kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Ketua Mahmakah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengatakan 21.000 orang tenaga kerja kasar yang dikabarkan masuk Indonesia bisa jadi merupakan tenaga kerja ilegal.

Jika demikian, menurut dia, sebetulnya jumlah itu lebih sedikit dibandingkan tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal yang tersebar di Arab Saudi dan Malaysia yang jumlahnya justru mencapai jutaan orang.

"Kalau tenaga asing itu ilegal maka tidak membahayakan, karena tinggal ditindak secara hukum dan dideportasi," kata dia.

Pasar Lebih Banyak Menyerap Tenaga Kerja Berpendidikan Rendah

Pemerintah menyatakan siap untuk meningkatkan kualitas pendidikan para tenaga kerja Indonesia, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Pemerintah akan meningkatkan kualitas pendidikan pekerja Indonesia," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto saat dihubungi di Jakarta, Senin (2/1/2016).

Menurut dia, peningkatan kualitas pendidikan tenaga kerja di Indonesia berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan rakyat. Karena itu, pemerintah menyatakan siap meningkatkan kualitas pendidikan pekerja Indonesia.

Ia mengatakan, saat ini, pasar tenaga kerja cenderung lebih banyak menyerap pekerja yang berpendidikan rendah, dibanding pekerja yang berpendidikan lebih tinggi.

Implikasinya, kata dia, tergambar pada kurang membaiknya tingkat kesejahteraan rakyat. Hal itu terlihat dari data BPS yang mencatat, pekerja berpendidikan tidak/belum tamat yang terserap pasar sebanyak 97,20 persen laki-laki dan 98,10 persen perempuan.

Pekerja berpendidikan SD yang terserap adalah 96,75 persen laki-laki dan 97,19 persen perempuan.

Sementara itu, pekerja berpendidikan SMP yang terserap sebanyak 93,95 persen laki-laki dan 93,43 persen perempuan. Pekerja berpendidikan SMA sebanyak 89,86 persen laki-laki dan 86,69 persen perempuan yang terserap pasar.

Pekerja berpendidikan Diploma I-III yang terserap 92,82 persen laki-laki dan 92,13 persen perempuan. Dan akhirnya, pekerja berpendidikan D-IV/Universitas yang terserap pasar sebanyak 94,16 persen laki-laki dan 92,91 persen perempuan.

Lebih jauh, katanya, tenaga kerja laki-laki yang tidak atau belum pernah sekolah, lebih banyak terserap di pasar tenaga kerja. Yaitu, sebanyak 98,33 persen pekerja laki-laki yang tidak/belum pernah sekolah, telah terserap oleh pasar. Dan hanya 1,67 persen yang tidak bekerja atau pengangguran. Di sisi lain, tenaga kerja perempuan yang tidak/belum pernah sekolah yang terserap pasar sebanyak 99,07 persen, dan hanya 0,93 persen lainnya menganggur.

Lebih jauh, kata dia, untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau SMA ke atas, persentase pekerja perempuan lebih rendah dibanding pekerja laki-laki. Contohnya, dari angkatan kerja laki-laki yang telah menamatkan Diploma IV (D-IV) atau Universitas, sebanyak 94,16 persen bekerja, sementara dari angkatan kerja perempuan yang telah menamatkan pendidikan D-IV/Universitas dan berstatus sebagai pekerja sebesar 92,91 persen.

"Data-data ini mengindikasikan ketidakselarasan profil lulusan perguruan tinggi di Indonesia dengan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan dalam pasar tenaga kerja," papar Kecuk, panggilan akrab Suhariyanto.

Ia menjelaskan, pendidikan yang rendah turut berkontribusi menyebabkan diskriminasi dalam pekerjaan. Sebab rendahnya pendidikan dan keterampilan, menjadikan perempuan mengalami kesulitan mencari pekerjaan untuk menghidupi diri dan keluarganya.

warta10.com

Kamis, 25 Agustus 2016

Menghindari Kepunahan Industri Baja RI


Pertemuan para produsen baja se-Asean akhir Mei lalu di Vietnam menyisakan pertanyaan mendalam tentang masa depan industri baja kawasan termasuk Indonesia setelah melihat gambaran kinerjanya tahun lalu.

Asosiasi Baja Dunia melaporkan bahwa China sangat mendominasi produksi baja dunia. Dari total produksi baja kasar dunia tahun lalu 1.600 juta ton, separuhnya produksi Negeri Tirai Bambu. Sementara itu, Asean-6 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, Vietnam dan Singapura) dengan tingkat konsumsi 70 juta ton per tahun dan pertumbuhan 5,1% per tahun, hanya mampu memproduksi 29 juta ton, dengan pertumbuhan hanya 4,4 %. Kenyataannya produsen Asean hanya mampu mengisi 29% konsumsi domestiknya dan 49 juta ton sisanya diimpor. Skala produksi Asean hanya 3,6% dari China, sehingga daya saing terhadap China hampir tidak ada.

Seperti halnya rekan seAsean, Indonesia dengan tingkat konsumsi baja hanya 11,4 juta ton per tahun, di bawah Vietnam dan Thailand, sama tidak berdayanya. Negara kita meng impor 6,5 juta ton tahun lalu, atau lebih dari 50% total kebutuhan. Situasi seperti ini sudah terjadi menahun dan karena pertumbuhan impor selalu lebih besar dari pertumbuhan produksinya, mudah diramalkan bahwa in dustri baja RI maupun Asean sangat tertekan hari ke hari.

Indonesia maupun negara Asean sudah mengenakan instrumen anti dumping untuk berbagai kategori baja karbon, tetapi perlambatan impor belum terlihat nyata. Di lain pihak China telah mengenakan pajak ekspor 15% – 25% untuk bahan/semi-finished baja karbon, sehingga pengguna membeli lebih mahal, tapi baja batangan paduan tidak dikenakan. Bah kan paduan diberikan tax rebate 13%.

Secara ‘cerdas’ produsen China membubuhkan elemen boron 0,0008% atau chromiun 0,3%, agar terklasifikasi baja paduan hingga dapat mengecap kedua fasilitas tersebut, padahal secara metalurgi tidak meningkatkan sifat mekanis ataupun kimianya. Berbeda untuk baja karbon, Asean mengenakan tarif impor baja paduan kecil nyaris 0%, karena baja jenis ini bahan baku industri permesinan. Di tengarai sepanjang 2015 sekitar 4 juta ton bahan terklasifikasi jenis ini masuk ke Asean, sehingga volume ekspor ke Asean tahun lalu meningkat 28%.

Produsen baja seperti halnya Asean memang harus berhadapan head to head dengan China karena jenis dan kualitas baja yang dihasilkan sama, yaitu baja komersial untuk infrastruktur. Indonesia dengan produksi bajanya yang tak lebih dari 0,5% China hanya mendapat perlindungan yang minim dari pemerintah, di bandingkan dengan produsen Negeri Panda dengan kapasitas raksasa serta bantuan penuh negaranya untuk ekspor. Persaingan dengan produsen Jepang atau Korea Selatan tidak seketat dengan China karena produk dan kualitas yang diekspor berbeda.

Tekanan serupa dialami industri baja RI sehingga utilisasi pabrik hanya rata-rata 50% dan sudah berlangsung lebih dari 5 tahun. Tahun lalu lebih diperberat karena harga baja dunia hanya US$325/ton turun 37% dari tahun sebelumnya, rekor terendah selama 10 tahun terakhir, di samping pasar yang menyusut.

Bila keadaan seperti ini terus berlanjut sehingga perusahaan terus merugi, dapat diramalkan tidak lama lagi satu demi satu produsen baja akan berguguran. Lebih jauh karena biaya listrik dan gas yang luar biasa mahalnya di negara kita, beberapa produsen berhenti memproduksi baja kasar, dan mengimpor bahan baku seperti slab, billet dan lain-lain. Celakanya bahan baku tersebut awalnya yang murah hanya diperoleh dari China, karena bahan baku baja bukan komoditas yang umum diperdagangkan, harga adalah kesepakatan penjual dan pembeli.

Nah, inilah buah simalakamanya, dengan China menerapkan pajak ekspor bahan baku, ongkos produksi di dalam negeri tidak bisa lagi tertutup oleh hasil penjualan. Maka bagaimana produsen Indonesia mencari jalan keluar? Tak lain menjadi pengimpor, dan menjadi berdagang produk baja, mungkin banyak sudah yang melupakan berproduksi. Sungguh ini merupakan awal bencana bagi industri baja kita.

Baja adalah lambang ketahanan industrialisasi suatu negara, dengan konsumsi per kapita per tahun RI hanya 45 kg, di bawah Asean 125 kg, dan jauh di bawah Korsel yang sudah mencapai 1.136 kg, sebenarnya peluang industri sangat besar untuk terus berkembang. Kebutuhan untuk pembangunan infrastruktur akan sangat besar ke depan. Negara maju seperti AS, Jepang tetap dengan segala upaya melindungi industri ini, karena baja sangat dibutuhkan bagi pembangunan serta ketahanan negara dalam memproduksi peralatan militer dan sebagainya.

JALAN KELUAR

Pertama-tama produsen harus lebih berjuang keras meningkatkan intensitas efisiensi di segala lini, menekan biaya, meningkatkan kualitas, serta melakukan terobosan inovasi memproduksi baja bernilai tambah lebih tinggi untuk bahan baku produk high-end di luar sektor konstruksi. Strategi menggandeng EPC company untuk masuk ke proyek strategis harus menjadi keniscayaan, dan industriawan baja harus berupaya keras untuk tidak hanya bermental pedagang.

Kedua, saatnya pemerintah dan rakyat Indonesia sendiri yang harus menolong agar ne geri ini bisa tetap memiliki industri baja dan me laksanakan proses industrialisasi ke depan.

Pemerintah harus cepat tanggap memfasilitasi produsen dari serangan impor melalui instrumen perdagangan dengan proses yang sesingkat mungkin. Lupakan prosedur WTO bahwa proses bisa sampai 18 bulan untuk menginvestigasi kecurangan dagang, laksanakan jangan lebih dari 3—4 bulan. Hilangkan ambigu keputusan antara membela sektor hulu atau sektor pemakai baja. Asumsi melindungi industri baja merugikan konsumen pemakai tidak terbantahkan, tetapi bila industri baja Indonesia punah, dan menjadi pengimpor 100%, pemerintah harus rela bahwa bisnis baja kelak menjadi tidak terkendali dan menjadi importer game.

Otoritas pelabuhan harus dilatih untuk mengenal praktik pelarian nomor harmonized system, agar baja karbon tidak diklasifikasi sebagai baja paduan. Kalau tidak mampu terapkan pre-inspection dari negara asal oleh surveyor pemerintah. Dan kenakan penalti yang berat terhadap pelanggar ketentuan jangan hanya sanksi administrasi. Terapkan secara tegas ketentuan penggunaan produk baja dalam negeri dalam proyek-proyek pemerintah, termasuk proyek KKKS Migas. Ajakan-ajakan menggunakan produk dalam negeri sekarang sudah terdengar sepoi-sepoi harus diintensifkan. Masukkan dalam kurikulum sekolah.

Tidak kalah penting adalah keberpihakan pemerintah untuk memberikan harga listrik dan gas yang bersaing pada industri khususnya baja yang sangat lahap energi. Singapura sebagai contoh memberikan tarif listrik yang lebih tinggi bagi sektor perumahan atau mal karena dianggap bukan sektor produktif. Dan sangat ironis kalau gas untuk industri di Korea yang seluruhnya diimpor, ternyata lebih murah dari pada di Indonesia.

Terakhir, sudah saatnya masyarakat membantu para produsen Indonesia untuk bangkit, dengan mengutamakan produksi dalam negeri, terutama baja.

*) AGUS TJAHAJANA WIRAKUSUMAH, Mantan Dirjen Industri Logam Mesin Elektronika dan Aneka, Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

                                          ----------------------------+++-------------------------




BANJIR PRODUK MURAH: Industri Baja Terhimpit China

Industri baja nasional kian terjepit akibat masih membanjirnya produk baja dari China berharga murah yang diperkirakan mencapai hingga tujuh juta ton.

Direktur Eksekutif IISIA Hidayat Triseputro mengatakan total komitmen produsen baja China mengurangi produksi hingga sekarang tidak dijalankan. Ekspor China ke seluruh dunia mencapai 112 juta ton, sekitar 32 juta ton ke Asean, dan sekitar 7 juta ton ke Indonesia.

Dia menuturkan hal tersebut membuat negara Eropa geram karena menurut catatannya, produksi baja mentah China hingga Maret 2016 mencapai 77 juta ton atau meningkat 2,9% dari Maret tahun lalu. “Ini bukan kami merengek-rengek. Semua negara mengatakan hal yang sama. Ini adalah perang dagang. Jangan sok menjadi good boy ,” ujarnya saat ditemui di sela pembukaan pameran industri logam di kantor Kementerian Perindustrian, Rabu (24/8).

International Relations Director Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Purwono Widodo menambahkan produsen baja Indonesia akan sulit bersaing dengan produk baja asal China karena negara itu telah menikmati margin hingga 28% yang berasal dari pelaksanaan kebijakan tax rebate yang mencapai 9%-13% dan bea masuk yang mestinya ditetapkan sebesar 15% menjadi hapus.

Asean South East Asia Iron & Steel Institute, asosiasi besi dan baja Asean, pada awal tahun ini melaporkan bahwa pemerintah China telah menghapus fasilitas tax rebate untuk beberapa produk baja lapis boron untuk hot rolled plate, baja lembaran, hot rolled narrow , wire rod dan baja batang-an sejak 2015. Namun, hal itu disiasati produsen China dengan memproduksi barang baru.

“Produsen baja China dilaporkan menambah elemen paduan lain seperti kromium agar produk yang dihasilkan terus mendapatkan keuntungan dari fasilitas tax rebate,” ujarnya.


KEUNTUNGAN

Selain mendapatkan fasilitas tax rebate , dengan mengekspor baja paduan atau campuran, lanjutnya, China akhirnya bisa terhindar dari bea masuk sebesar 15% yang dikenakan pada produk baja karena baja paduan mengandung kadar boron, bea masuknya 0%. “Jadi mereka sudah mendapat keuntungan 28%.” Purwono mengatakan kondisi itu, diperparah dengan menyusulnya negara seperi Korea Selatan dan Jepang yang juga mematok harga mirip dengan China. Pelaku industri baja sangat mengharapkan pemerintah memproteksi pasar domestik.

Menurutnya, proteksi yang paling umum bagi industri baja yang juga sudah diterapkan Indonesia antara lain menggunakan tarif, tapi dengan berlakunya most fovoured nation (MFN) proteksi tidak akan mumpuni. “Dengan China kita terikat dengan perjanjian China Free Trade Agreement , dengan Korea ada Asean-Korea, dengan Jepang ada IJEPA, artinya percuma. Satu-satunya adalah trade remedies bisa anti dumping, safeguard atau minimum import price ,” ujarnya.

Setelah selama tiga tahun terakhir produksi baja stagnan, pebisnis mendesak pemerintah segera mem- bangun fasilitas produksi lanjutan. Purwono menyebutkan batas persentase impor baja maksimum 30% bagi kestabilan negara, bahkan idealnya 20%. “Harus ada Cilegon kedua danCilegon ketiga misal di Banyuwangi atau di Kalimantan dan Sulawesi biar biayanya lebih rendah karena daerah timur juga masih butuh banyak baja,” imbuhnya.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian mengatakan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan tiga jenis baja yang akan dikenai bea masuk anti dumping (BMAD). Ketiga jenis baja tersebut antara lain hot rolled coil (HRC), cold rolled coil (CRC), dan colled rolled stainless steel (CRS). “Nanti masih kami rapatkan wak tu itu mereka mengajukan tapi waktunya sudah habis. Me mang ketiga jenis baja itu yang paling berpengaruh jadi kalau tidak diproteksi, industri bisa terganggu,” katanya.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan juga telah memperpanjangtiga tahun pemberlakuan BMAD terhadap impor HRC asal China, Singapura, dan Ukraina. Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.50/PMK.010/2016 yang terbit pada Maret lalu. Tarif tertinggi BMAD dikenakan atas impor hot rolled plate dari Singapura, yakni sebesar 12,5%. Sedangkan tarif BMAD untuk produk serupa dari Ukraina ditetapkan sebesar 12,33% dan China sebesar 10,47%.



Bisnis.com

Jumat, 01 Januari 2016

Hadapi MEA, Indonesia kekurangan insinyur


Memasuki era Masyarakan Ekonomi ASEAN (MEA), Indonesia menghadapi beberapa tantangan. 

Di bidang jasa misalnya, jumlah insinyur masih terbilang belum cukup mengingat kebutuhannya sangat tinggi.

"Tantangan yang ada, Indonesia kekurangan jumlah insinyur. Kita punya 3.000 insinyur per satu juta penduduk. Di negara lain, jumlah insinyur di atas 4.000 orang per satu juta penduduk," ujar Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Hermanto Dardak, Kamis (31/12/2015).

Hal ini menunjukkan bahwa tren menjadi insinyur di Indonesia tidak semenarik di luar negeri. Menurut dia, salah satu cara membangun minat para mahasiswa untuk menjadi insinyur adalah dengan mendokumentasi semua proyek signifikan, terutama mega proyek.

Dokumentasi proyek-proyek ini bisa dikumpulkan mulai dari awal sampai akhir. Praktisi pembangunan, perlu membagikan pengalaman membangun proyek-proyek misalnya Mass Rapid Transit (MRT), Jembatan Suramadu, atau terowongan-terowongan.

Dengan begitu, kata Hermanto, para pelajar mulai dari SD sampai SMA tertarik untuk mempelajari bidang keinsinyuran. Lebih jauh lagi, para pelajar ini juga berminat untuk menjadi seorang insinyur.

Selain itu, tidak hanya dari segi jumlah, insinyur juga perlu meningkatkan kualitas dengan mempelajari teknologi.

Saat ini, banyak material yang dibuat menjadi lebih kecil atau tipis, tetapi dengan performa atau kinerja lebih tinggi.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh anggota Dewan Insinyur PII, Rully Chairul Azwar. Kurangnya kapasitas insinyur disebabkan karena waktu pendidikan formal dan profesi yang cukup lama.

"Mereka harus magang juga, padahal kebutuhan insinyur kita 4.500 per satu juta penduduk. Kita punya 750.000 insinyur, tetapi masalahnya tidak semua kerja di bidangnya. Yang bekerja menjadi insinyur paling kurang dari 40 persen," pungkas Rully.

Kontan.co.id

Minggu, 13 Desember 2015

Dampak MEA Terhadap Perkembangan Sektor Konstruksi



By Shabrina Izzati

Apa itu MEA
MEA adalah kepanjangan dari Masyarakat Ekonomi Asean. Ini merupakan suatu kesepakatan sebagai bentuk penguatan di berbagai sektor, terutama demi pertahanan guncangan global. Implementasi dari kebijakan ini mirip seperti FTA yakni Free Trade Area, tetapi masih dalam ASEAN. Kebijakan ini rencananya masih jauh-jauh hari, namun karena semakin dibutuhkannya kerja sama bilateral dalam penguatan negara-negara ASEAN dari serangan produk luar negeri maka diajukanlah MEA hingga tahun 2015.

Kenapa harus MEA
MEA merupakan terobosan baru sebagai pembangkit ekonomi yang pernah ambruk pada tahun 1997 dan pernah juga krisis pada tahun 2009.  Salah satu cara untuk membangkitkan pertumbuhan ekonomi tersebut adalah Free Trade, because Free Trade is the best to get equilibrium and efficiency. Secara teori, sebuah liberalisasi ekonomi bisa menjadi pemicu percepatan pertumbuhan ekonomi karena sebuah kebebasan akan menuntut ke persaingan yang tinggi pula. Persaingan atau kompetisi yang tinggi akan menimbulkan efisiensi yang tinggi sehingga harga akan lebih terjangkau oleh masyarakat. Sesuai hukum permintaan, rendahnya harga akan menimbulkan banyaknya konsumsi. Karena harga produk bisa rendah dengan efisiensi yang tinggi maka penjual akan mendapatkan profit yang banyak pula sehingga dapat meningkatkan income masyarakat. Maka dari sinilah terciptalah kesejahteraan masyarakat.

4 Pilar MEA
Terbentuknya pasar dan basis produksi tunggal
Bebas arus barang, bebas jasa, bebas investasi, bebas tenaga kerja, bebas foodarus permodalan, PIS, perkembangan sektor -agriculture-forestry.
Kawasan berdayasaing tinggi
Kebijakan persaingan, perlindungan konsumen, HKI, pembangunan infrastruktur, kerjasama energi, perpajakan, e-commerce.
Kawasan dengan pembangunan ekonomi merata
perkembangan UKM, mempersempit kesenjangan pembangunan antar negara ASEAN.
Integrasi dengan perekonomian dunia
pendekatan koheren terhadap hubungan ekonomi, eksternal, partisipasi yang semakin meningkat dalam jaringan suplai global.

Dampak MEA
Dampak utama MEA adalah semakin terjadinya liberalisasi ekonomi dikawasan ASEAN. Dampak lainnya antara lain, penurunan biaya perjalanan transportasi, menurunkan secara cepat biaya telekomunikasi, meningkatkan jumlah pengguna internet, informasi akan semakin mudah dan cepat diperoleh, meningkatnya investasi dan lapangan kerja.

Apa itu Sektor Konstruksi
Konstruksi atau bangunan adalah suatu kegiatan yang hasil akhirnya berupa bangunan/konstruksi yang menyatu dengan lahan tempat kedudukannya, baik yang digunakan sebagai tempat tinggal atau sarana lainnya. Sektor konstruksi adalah salah satu sektor andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan selalu dituntut untuk tetap meningkatkan kontribusinya melalui tolak ukur terhadap PDB nasional. Peranan sektor konstruksi cukup strategis dan tak terpisahkan dengan pembangunan suatu daerah/negara.

Jumlah Perusahaan Konstruksi 2010 – 2013
Sejak tahun 2010-2013, jumlah perusahaan konstruksi di Indonesia cenderung tidak mengalami perubahan yang signifikan. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada jumlah perusahaan konstruksi.

Prediksi Pasar Konstruksi di Indonesia 2014 -- 2015
Pasar konstruksi di tahun 2014 diperkirakan akan tetap ramai dengan bangunan Highrise & Commercial Building seperti hotel, apartemen, perkantoran, dan lain-lain. Pasar Highrise & Commercial Building diprediksi akan menyumbang sekitar 73.84% atau sekitar 18.460.235 sqm dari total proyek yang direncanakan dibangun di tahun 2014. Sementara sector Industri & Infrastruktur diprediksi berada di kisaran 11.97% atau sekitar 2.9993.294 sqm. Selain itu, di tahun 2014 ini diperkirakan diramaikan oleh pembangunan rumah tinggal dari mulai level rumah sederhana sampai yang dikatakan rumah mewah.

Kontribusi Sektor Konstruksi terhadap PDB
Pada tahun 2013 sektor konstruksi terus mengalami peningkatan dari triwulan ke triwulan. Dibandingkan dengan lapangan usaha lain, sector konstruksi memiliki sumbangan yang cukup besar.

Dampak MEA pada Sektor Konstruksi
Kondisi pasar konstruksi di Indonesia saat ini terus mengalami peningkatan. Dengan kondisi seperti ini, Indonesia dinilai akan mampu memenangkan persaingan dalam sektor jasa konstruksi saat terjadi liberalisasi dengan diberlakukannya MEA mulai 2015.

Hal ini disebabkan dalam 15-20 tahun terakhir ini, pembangunan infrastruktur di Indonesia sangat besar. Sepanjang sepuluh tahun terakhir para pelaku konstruksi Indonesia terlihat semakin lama semakin menguasai masalah pasar konstruksi di nasional.

Faktor lain adalah faktor pengalaman dari para pelaku jasa konstruksi, yang sudah banyak bekerja di pasar Internasional. Sampai saat ini para pekerja konstruksi baik menengah maupun terampil sudah banyak bekerja di negara-negara lain.

Pelaksanaan MEA akan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi warga ASEAN yang memiliki keterampilan atau keahlian khusus, pengetahuan, kemampuan di bidangnya, merupakan lulusan perguruan tinggi, akademik, sekolah teknik, atau dengan pengalaman kerja mumpuni untuk mendapatkan pekerjaan tanpa ada hambatan di negara ASEAN yang dituju.

Pemerintah memfasilitasi sertifikasi pekerja agar kemampuannya dapat diakui di negara lain.

Untuk melindungi pekerja lokal, pemerintah pusat sudah berupaya dengan membatasi kebebasan tenaga asing untuk masuk ke Indonesia.

Di sisi sumberdaya manusia, persaingan yang muncul karena masuknya tenaga kerja asing mendorong pekerja untuk meningkatkan kemampuannya.



Masalah yang dihadapai Sektor Konstruksi

Minimnya SDM berkualitas
Misalnya, jika mengacu pada data terakhir, jumlah pelaku jasa konstruksi nasional berjumlah 117.042 badan usaha dan konsultan berjumlah 4.414 pelaku usaha. Namun, hingga kini badan usaha dengan kualifikasi besar masih sedikit dibandingkan dengan kualifikasi kecil maupun sedang. Begitu juga dengan tenaga kerja konstruksi, diketahui tenaga ahli berjumlah 10 persen, tenaga terampil 30 persen, dan kelompok buruh kasar 60 persen.

Para tenaga konstruksi belum tertata dengan baik
Ini karena sekitar 90 persen dari mereka adalah perusahaan golongan kecil yang belum memiliki tenaga ahli kompeten.Hal ini pun turut memengaruhi daya saing, bahkan bukan tidak mungkin Indonesia akan semakin sulit membendung gempuran kontraktor asing.

Masih terjadi persaingan yang tidak sehat dalam memperebutkan suatu tender di lingkungan perusahaan penyedia jasa
Terlihat belum terwujudnya secara optimal kemitraan yang sinergis antara kontraktor besar dengan kontraktor kecil. Terlebih lagi, dalam menghadapi pasar bebas ASEAN, hanya segelintir tenaga kerja konstruksi yang mau mendaftar.

Ketergantungan bahan baku impor
Seperti material aspal, besi baja serta peralatan lainnya.

Minimnya dukungan pemerintah
Kontraktor nasional, saat ini membutuhkan dukungan intensif fiskal untuk dapat bersaing di pasar internasional, juga pembebasan pajak berganda. Selain itu, dukungan diplomasi bisnis, pameran, dan rekomendasi untuk kebijakan-kebijakan lainnya.

Lain-lain
Tidak adanya dukungan pembiayaan murah dari perbankan dan rezim perpajakan, regulasi yang belum sepenuhnya mendukung ruang gerak kontraktor, rendahnya kepercayaan bank lokal mendukung pembiayaan, serta yang paling krusial, belum adanya kepastian hukum khususnya yang menyangkut pembebasan lahan.

Kesimpulan
Pasar konstruksi di Indonesia sebagai pasar kedua terbesar di Asia setelah China akan terus tumbuh dan meningkat. Jikapun ada penurunan sedikit karena dihantam tiga kendala, yaitu kenaikan upah minimum regional (UMR) dan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Dampak positif MEA terhadap sector konstruksi antara lain membuka kesempatan seluas-luasnya bagi warga ASEAN untuk mencari kerja di setiap negara yang ada di kawasan tersebut, semakin terbukanya persaingan tenaga-tenaga terampil di ASEAN, persaingan yang muncul karena masuknya tenaga kerja asing mendorong pekerja untuk meningkatkan kemampuannya.

Sedangkan dampak negatif MEA terhadap sektor konstruksi antara lain terancamnya pekerja Indonesia oleh pekerja asing sehingga memungkinkan angka pengangguran semakin tinggi.

Saran
Perlu ada kolaborasi antara lembaga riset pemerintahan dengan dunia pendidikan baik dari sisi swasta maupun pemerintah.
Hal ini dikarenakan konstruksi Indonesia masih sangat kekurangan SDM yang berkualitas sementara tuntutan dunia konstruksi semakin meningkat tiap tahunnya. Selain itu, kolaborasi ini juga penting untuk menciptakan penerapan hukum yang konsisten, sosialisasi birokrasi konstruksi yang menyeluruh, serta pembentukan lembaga pengawasan dan pendukung seperti permodalan dan asuransi.

Peningkatan kualitas program pendidikan
Untuk menyongsong era pasar bebas dan AFTA yang semakin dekat, diperlukan konstruksi yang aman, nyaman dan tertib di Indonesia. Apalagi di era terbuka, inovasi, solusi, efesiensi dan produktifitas menjadi faktor penting untuk bertahan di pasar dengan kompetisi yang luas. Untuk mencapai hal itu, perlu adanya peningkatan kualitas program pendidikan sehingga dapat memenuhi tuntutan pasar.


Prezi.com