Banyak Produk Impor khususnya dari Tiongkok masuk ke pasar domestik dengan Harga Sangat Rendah.

Kebijakan pemerintah yang mewajibkan seluruh badan usaha milik negara (BUMN) menggunakan baja milik PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) bertujuan untuk melindungi baja nasional dari gempuran baja impor. Beberapa tahun terakhir, penjualan baja nasional, termasuk penjualan perusahaan baja milik BUMN selalu tertekan oleh faktor eksternal. Misalnya anjloknya harga baja dunia, membanjirnya produk baja impor, praktik perdagangan yang tidak wajar sehingga tidak dikenakan bea masuk, serta penundaan berbagai proyek pipanisasi minyak dan gas.
Presentase Penjualan Baja di Indonesia (2014)

Baja impor sangat menekan pangsa pasar dalam negeri dan memiliki
porsi besar. Baja lembaran panas impor, misalnya menguasai pangsa pasar
37 persen, baja lembaran dingin 26 persen dan batang kawat 49 persen.
Pendapatan bersih KRAS dari penjualan produk baja pada 2014 menurun sebesar $143,56 juta. Penjualan jasa juga menurun sebesar $72,04 juta. Secara keseluruhan besarnya total pencapaian penjualan 2014 lebih rendah $215,60 juta dibanding pencapaian 2013. Penurunan pendapatan neto dari penjualan produk baja terutama disebabkan oleh penurunan harga jual.
Penurunan penjualan tersebut terutama disebabkan oleh banyaknya produk impor khususnya dari Tiongkok yang masuk ke pasar domestik dengan harga sangat rendah.
Produksi bersih KRAS pada 2014 turun sebesar 2,33 persen menjadi 2,21 juta ton dibanding tahun sebelumnya. Penurunan produksi juga didorong penurunan baja lembaran dingin sekitar 8,71 persen menjadi 518.171 ton dan batang kawat menjadi 183.788 ton atau turun 16,56 persen.
Baja tulangan juga turun menjadi 118.989 ton atau 24,2 persen dan baja profil dari 67.178 ton menjadi 39.838 ton atau turun sebesar 40,70 persen. Selain itu, terjadi penurunan produksi pipa baja sebesar 33,22 persen menjadi 56.169 ton.
Namun, KRAS masih bisa menjaga produksi baja lembaran panas, kontributor utama pendapatan. Baja jenis tersebut naik sebesar 2,69 persen menjadi 1,87 juta ton dari sebelumnya 1,82 juta ton. Meskipun dari sisi harga turun 3,17 persen.
Sejumlah perusahaan konstruksi pelat merah mendukung kebijakan pemerintah tersebut
juga didukung oleh perusahaan konstruksi pelat merah.
"Kewajiban penggunaan baja tersebut sudah ada nota kesepahamannya (MoU). Artinya menandakan kami setuju," ungkap Ki Syahgolang, Corporate Secretary PT Adhi Karya Tbk (ADHI).
Dukungan serupa juga diutarakan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Konstruksi Indonesia (AKI) Zali Yahya. Menurut dia, sinergi antar BUMN dapat memperkuat perusahaan satu sama lain menjelang pasar bebas ASEAN.
Pendapatan bersih KRAS dari penjualan produk baja pada 2014 menurun sebesar $143,56 juta. Penjualan jasa juga menurun sebesar $72,04 juta. Secara keseluruhan besarnya total pencapaian penjualan 2014 lebih rendah $215,60 juta dibanding pencapaian 2013. Penurunan pendapatan neto dari penjualan produk baja terutama disebabkan oleh penurunan harga jual.
Penurunan penjualan tersebut terutama disebabkan oleh banyaknya produk impor khususnya dari Tiongkok yang masuk ke pasar domestik dengan harga sangat rendah.
Produksi bersih KRAS pada 2014 turun sebesar 2,33 persen menjadi 2,21 juta ton dibanding tahun sebelumnya. Penurunan produksi juga didorong penurunan baja lembaran dingin sekitar 8,71 persen menjadi 518.171 ton dan batang kawat menjadi 183.788 ton atau turun 16,56 persen.
Baja tulangan juga turun menjadi 118.989 ton atau 24,2 persen dan baja profil dari 67.178 ton menjadi 39.838 ton atau turun sebesar 40,70 persen. Selain itu, terjadi penurunan produksi pipa baja sebesar 33,22 persen menjadi 56.169 ton.
Namun, KRAS masih bisa menjaga produksi baja lembaran panas, kontributor utama pendapatan. Baja jenis tersebut naik sebesar 2,69 persen menjadi 1,87 juta ton dari sebelumnya 1,82 juta ton. Meskipun dari sisi harga turun 3,17 persen.
Sejumlah perusahaan konstruksi pelat merah mendukung kebijakan pemerintah tersebut
juga didukung oleh perusahaan konstruksi pelat merah.
"Kewajiban penggunaan baja tersebut sudah ada nota kesepahamannya (MoU). Artinya menandakan kami setuju," ungkap Ki Syahgolang, Corporate Secretary PT Adhi Karya Tbk (ADHI).
Dukungan serupa juga diutarakan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Konstruksi Indonesia (AKI) Zali Yahya. Menurut dia, sinergi antar BUMN dapat memperkuat perusahaan satu sama lain menjelang pasar bebas ASEAN.
“Di sisi lain, KRAS juga masih harus menampilkan harga kompetitif
dibanding harga pasar baja lainnya sehingga tidak mengganggu margin
keuntungan perusahaan konstruksi,” ujar Zali.
Sumber : bareksa.com
----------------------------------------------------oOo-----------------------------------------------------
Sekedar tambahan informasi :
Gara-gara Baja Impor China, Pabrik Ini Hanya Beroperasi 10 Hari dalam Sebulan
Zulfi Suhendra - detikfinance
Kamis, 26/02/2015 15:43 WIB
Direktur Marketing Gunung Steel Group, Choiruddin menuturkan, pembangunan di China saat ini tengah melambat. Pasokan baja yang harusnya dimanfaatkan di dalam negeri China terpaksa 'dibuang' ke luar, salah satunya ke Indonesia.
Choiruddin mengatakan, dalam 6 bulan terakhir pihaknya mengurangi kapasitas produksi. Dari kapasitas yang seharusnya 2 juta ton per tahun, kini perusahaan hanya memproduksi di bawah 1 juta ton per tahun.
"Sudah ada setengah tahun ini. Kita dari berhenti 70%, lalu 60%, sekarang 30% utilisasi," kata Choiruddin ditemui di pabrik baja Gunung Steel Group, Cikarang, Bekasi, Kamis (26/2/2015).
Pabrik ini terpaksa menghentikan produksi sementara, belum lagi stok yang masih menumpuk di gudang yang tak keluar karena kalah oleh banjirnya baja dari China. Tak seperti pabrik-pabrik yang sehat, Choiruddin menuturkan, dalam sebulan pabrik ini hanya beroperasi beberapa hari saja.
"Jadi dengan dumping harga dari China sana merugikan produksi dalam negeri. Stok kita menumpuk. Pabrik hanya beroperasi 7-10 hari tiap bulan," katanya.
Dia mengatakan, perusahaan yang awalnya untung kini merugi. "Asalnya plus sekarang minus. Kalau angkanya harus tanya sama keuangan," jelas dia.
Meski tengah 'berdarah-darah', dia mengaku perusahaan tetap membayarkan gaji karyawannya secara utuh dan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
"Hanya saja insentifnya kita kurangi. Karena kalau produksi besar, insentif juga besar," tuturnya.
Kini, dia menaruh harapan sangat besar pada pemerintah untuk melindungi produsen dalam negeri. Berbagai kebijakan pemerintah diharap bisa melindungi produk lokal dari serbuan impor. Apalagi menurutnya, kebutuhan baja akan semakin meningkat saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) punya program membangun banyak infrastruktur.
"Harusnya ACI, Aku Cinta Indonesia. Sekarang dengan Kabinet Kerja mulai perhatikan, untung nggak sempat ke ICU," tutupnya.
Berdasarkan pengamatan detikFinance, pabrik Gunung Steel Group mencapai 230 hektar. Namun, hanya segelintir orang yang beraktivitas di pabrik ini. Beberapa bangunan-bangunan pabrik telihat gelap, usang, dan tak ada aktivitas.
Sumber : detik.com
0 komentar:
Posting Komentar